Antisipasi Keterlambatan, Dinas Perdagangan Pantau Distribusi Pupuk Bersubsidi

Antisipasi Keterlambatan, Dinas Perdagangan Pantau Distribusi Pupuk Bersubsidi

Kudus, ANTARA JATENG – Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, meningkatkan pemantauan terhadap distribusi pupuk bersubsidi untuk mengantisipasi kemungkinan terjadi keterlambatan distribusi komoditas bersubsidi tersebut.

“Tugas pokok kami soal alur distribusinya sehingga pengawasan kami soal distribusinya apakah sudah sesuai aturan atau belum,” kata Kepala Bidang Fasilitasi Perdagangan, Promosi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus Imam Prayitno di Kudus, Kamis.

Apalagi, lanjut dia, saat ini sudah memasuki musim tanam pertama sehingga kebutuhan pupuk tentu mulai meningkat.

Ia mengatakan, pemantauan dari Dinas Perdagangan hanya memastikan bahwa distributor telah menyalurkan pupuk bersubsidi sesuai alokasi secara bertahap.

Menurut dia, alokasi pupuk bersubsidi untuk setiap petani tidak bisa diambil semuanya sekaligus, melainkan bertahap sesuai kebutuhan dan umur tanaman padinya.

Terkait penambahan alokasi pupuk bersubsidi, kata dia, sudah mulai didistribusikan kepada sejumlah penyalur.

“Kami juga memantau penyaluran tambahan alokasi pupuk bersubsidi tersebut, guna memastikan komoditas bersubsidi tersebut benar-benar tersalur kepada petani,” ujarnya.

Menurut dia, keluhan sejumlah petani terkait ketersediaan pupuk bersubsidi, khususnya jenis SP-36 bukan karena tidak ada stok, melainkan karena adanya kesalahan pengertian di lapangan.

Ia berharap, sejumlah pihak memahami alur distribusi komoditas bersubsidi tersebut, bahwa petani tidak boleh mengambil alokasinya untuk satu musim tanam sekaligus.

“Pengambilan pupuknya harus bertahap, sesuai usia tanamannya. Kenyataan ada petani yang melakukan pengambilan alokasi sekaligus perlu diberikan pemahaman karena yang dirugikan petani lain yang kebetulan mengambil alokasi pupuknya paling belakang,” ujarnya.

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus juga mengingatkan kepada petani agar tidak melakukan pembelian pupuk terlalu dini, dibandingkan dengan tanaman padinya.

Pembeliannya diharapkan disesuaikan dengan kebutuhan saat itu, sehingga ketika baru memulai persemaian, maka kebutuhan sementara baru pupuk urea dengan kebutuhan yang tidak terlalu banyak.

Untuk antisipasi kelangkaan, akhirnya Kabupaten Kudus mengajukan tambahan alokasi ke Provinsi Jateng.

Tambahannya yakni pupuk urea sebanyak 1.200 ton, SP-36 sebanyak 900 ton, ZA sebanyak 500 ton, dan NPK sebanyak 3.683 ton.

Sementara alokasi sebelumnya, untuk pupuk urea sebanyak 9.315 ton, pupuk ZA sebanyak 4.160 ton, NPK sebanyak 5.920 ton.

Untuk pupuk SP-36 sebanyak 1.275 ton dan pupuk organik sebanyak 4.100 ton.

Editor: Mahmudah

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Antaranews

Categories: News

Leave A Reply

Your email address will not be published.