Dorong Ekspor, Pemerintah Perlu Berikan Insentif

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta pemerintah untuk memberikan insentif kepada para pelaku usaha untuk meningkatkan ekspor nasional. Upaya tersebut membutuhkan komitmen bersama dari semua pihak.
“Kita harapkan tentu insentif pajaknya, karena yang terkait dengan fiskal itu penting,” kata Ketua Umum Kadin Indonesia, Rosan P Roeslani di ICE BSD City, Tangerang, Kamis, (8/2/2018).

 
Menurutnya, pemerintah juga harus bisa menjamin ketersediaan bahan baku melalui sinkronisasi kebijakan dan peraturan yang ada. Dengan begitu, pelaku usaha akan mampu berproduksi sehingga menyediakan barang yang dapat diekspor ke luar negeri.
 
Barang yang diproduksi di Indonesia juga harus lebih kompetitif agar mampu bersaing dengan produk yang sama dari negara lain. Selain itu, Rosan berharap pemerintah bisa menjalin kerja sama dengan banyak negara untuk membuka pasar ekspor non tradisional.
 
“Karena dari Kadin sendiri lebih membangun dari industrinya. Ini justru yang kita dorong (pemerintah) untuk meyakinkan mereka bahwa kita buka pasar baru, termasuk bukan hanya yang (pasar) tradisional tapi seperti kemarin kita ke Asia Pasifik, India, Pakistan, Sri Lanka,” jelas dia.
 
Dari sektor industrinya, Kadin mendorong sejumlah industri yang memang sudah memiliki pasar ekspor agar lebih ditingkatkan. Sementara ekspor komoditas juga dinilai akan mengalami perbaikan seiring dengan kondisi ekonomi di negara maju khususnya Tiongkok yang mulai membaik.
“Kalau kita bicara di luar tambang, karena batubara dan komoditas itu pasti akan jauh lebih baik tahun ini. Tapi industri yang ingin kita dorong itu (misalnya) industri alas kaki, otomotif yang kita memang sudah bagus di situ,” kata dia.
 
Seperti diketahui, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) menargetkan pertumbuhan ekspor tahun ini bisa mencapai 11 persen.
Menurut Rosan, untuk mencapai target tersebut perlu dilakukan penambahan jumlah eksportir dan perbaikan ekosistem bisnis untuk mendukung ekspor. “Ini bisa dilakukan melalui lima pilar utama strategi akselerasi peningkatan ekspor indonesia, yaitu penambahan jumlah eksportir, peningkatan harga ekspor, diversifikasi produk ekspor, pengembangan pasar ekspor, dan pengembangan ekosistem ekspor,” kata Rosan. 
 
Menurutnya, ekspor nasional yang masih ditopang oleh komoditas sebaiknya dilakukan upaya diversivikasi dan peningkatan daya saing produk ekspor. Manufaktur yang kurang dominan menjadi penyebab ekspor Indonesia tidak maksimal. Ketika harga komoditas naik, perekonomian Indonesia menggeliat. Namun, ketika harga komoditas turun, ekonomi Indonesia juga terkontraksi. Untuk mengatasi votalitas tersebut, Indonesia perlu meningkatkan sektor manufaktur. 
 
“Produk ekspor Indonesia hampir  80 persen masih komoditas. Ekspor kita selama ini masih bergantung komoditas dan itu tidak sehat,” ungkap Rosan.

Categories: Kabar Kadin

Leave A Reply

Your email address will not be published.