Industri Kreatif Perlu Kolaborasi

Industri kreatif yang menjamur di Jateng, khususnya Kota Semarang memerlukan kolaborasi yang menyentuh semua aspek. Tak cukup hanya mengatur strategi masuk pasar di era digitalisasi sekarang, tetapi juga membangun dan memberi kepercayaan, terutama pada mereka yang masih dalam tahap start-up atau rintisan.

Wakil Ketua Umum Bidang UKM dan Koperasi Kadin Jateng Hasan Abdul Rozak mengungkapkan saat ini, masih banyak pelaku usaha ekonomi kreatif yang kesulitan mengakses pasar, sehingga dibutuhkan sinergi antarsektor ekonomi kreatif.

‘’Mesti berani mengubah pola pikir, serta edukasi bagaimana perubahan ke era digital bisa membantu membuka pasar lebih luas lagi bagi industri ekonomi kreatif,’’ tutur Rektor Unisbank itu dalam Focus Group Discussion (FGD) ‘’Strategi Pemasaran Produk UMKM di Era Digital’’ di Kantor Kadin Jateng lantai IX Menara Suara Merdeka Jalan Pandanaran, Semarang, kemarin.

Kolaborasi untuk mengembangkan industri kreatif dan ekosistem start-up di Kota Semarang sudah dilakukan Impala Space. Gatot Hendraputra selaku leader menyatakan, pihaknya sudah menginkubasi beberapa start-up lewat metode riset.

Edukasi

Upaya membangun talenta kreatif beragam menjadi lebih produktif, kata dia, mengacu pada semangat kolaborasi dan saling membantu. Hal itu dilakukan agar progres yang didapat cukup signifikan untuk percepatan menuju sukses. ‘’Kami juga bekerja sama dengan Google Indonesia, khususnya untuk pembekalan pengetahuan digital marketing bagi UKM yang baru online,’’ jelas Gatot.

Ketua Indonesian Fashion Chamber (IFC) Semarang Ina Priyono menyebutkan proses mengedukasi para pelaku usaha fashion dan kerajinan supaya bisa lebih berkembang bukanlah hal mudah. Semarang sebagai kota kreatif, khususnya fashion memiliki banyak pekerjaan rumah untuk mengangkat pelaku UKM agar bisa lebih eksis tidak hanya di dalam kota, tetapi juga luar daerah. ‘’Banyak hal dilakukan, tetapi belum sesuai dengan harapan.

Edukasi tidak mudah dan kami terus bekerja sama dengan Kadin Provinsi dan Kota; apalagi jika kita semua di sini bisa berkolaborasi, bakal lebih bagus,’’ tegas desainer itu. Eko Nugroho, pemimpin dan pemilik rumah produksi Dreamlight World Media mengingatkan semua yang berhasil pada bisnis kreatif tidak terfokus pada semata-mata uang terlebih dahulu.

Semua berjalan didasari atas hobi atau kesukaan, dan terpenting bagaimana menetapkan suatu tujuan yang kuat. Ekonomi kreatif di era digital, menurut dia, juga membutuhkan keberanian mengambil risiko. Asesor Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Jateng Bambang Supradono menambahkan fokus untuk mewujudkan kota kreatif dilakukan dengan cara membangun subsektor unggulan, termasuk penyerapan tenaga kerjanya

Categories: Kabar Kadin

Leave A Reply

Your email address will not be published.