Industri Properti di Tahun Politik Bakal Cemerlang, Nasib Rumah Murah?

Perekonomian Indonesia mulai bangkit di 2017. Namun ada beberapa sektor yang masih belum juga terdongkrak pertumbuhan ekonomi, seperti properti.

Sektor properti sepanjang tahun ini masih stagnan dari sisi penjualan. Meskipun pasokan terus bertambah, namun penjualan properti tahun ini masih belum bergeliat

Meskipun begitu memasuki tahun 2018, para pengembang optimis properti di Indonesia akan mulai bangkit. Seperti apa yang diungkapkan oleh Sekretaris Perusahaan PT Intiland Development (Tbk) Theresia Rustandi.

 Menurutnya, kondisi sektor properti pada 2018 bisa lebih baik lagi. Apalagi sejumlah sinyal positif mulai terlihat pada tahun ini.

Seperti, meningkatnya peringkat kemudahan berbisnis (Easy of Doing Business/EoDB) Indonesia peringkat 72 dari 190 negara. Selain itu pemerintah juga mengizinkan bagi warga negara asing untuk memiliki properti di Indonesia.

Bahkan optimisme tersebut mengalahkan kekhawatiran tahun politik yang akan dimulai pada 2018. Menurutnya, masyarakat sudah mulai bisa cerdas dengan tidak takut berinvestasi di properti meskipun memasuki tahun politik.

“Kami optimistis kondisi bisa lebih baik. Sinyal positif dan masyarakat semakin dewasa untuk tidak mengaitkan politik dengan ekonomi apalagi properti,” ujarnya saat dihubungi Okezone.

Sementara itu, Direktur Jenderal Pembiayaan Perumahan Lana Winayanti mengatakan, pada kondisi properti yang mulai rebound pada tahun depan, dirinya optimistis minat masyarakat terhadap rumah subsidi akan meningkat. Meskipun pada tahun depan, harga rumah subsidi akan naik 5%.

Seperti diketahui, untuk Wilayah Jawa (kecuali Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) naik menjadi Rp130 juta pada 2018 dari harga sebelumnya Rp123 juta. Sementara untuk wilayah Sumatera (kecuali Kepulauan Riau dan Bangka Belitung) harga rumah menjadi Rp130 juta dari harga sebelumnya (2017) yang hanya sebesar Rp123 juta.

Untuk wilayah Kalimantan akan meningkat menjadi Rp142 juta pada 2018 mendatang. Sementara Sulawesi pada 2018 harga rumah subsidi akan meningkat menjadi Rp136 juta.

Kemudian wilayah Maluku dan Maluku Utara akan meningkat menjadi Rp148,5 juta dari tahun 2017 yang hanya sebesar Rp141 juta.

Kemudian untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara pada tahun depan akan dipatok diharga Rp148,5 juta. Dan wilayah Papua dan Papua Barat pada 2018 dipatok sebesar Rp205 juta.

Kemudian untuk wilayah Kepulauan Riau dan Bangka Belitung pada 2018 dipatok menjadi Rp136 juta. Sementara untuk wilayah Jabodetabek rumah subsidi di tahun 2018 dipatok dengan harga Rp148,5 juta.

“Tahun depan akan ada kenaikan (harga rumah subsidi) kenaikannya sebesar 5% per tahun. Ini sesuai dengan indeks kemahalan konstruksi dan menyesuaikan inflasi suatu daerah,” jelasnya

Apalagi lanjut Lana, pihaknya akan meningkatkan dua kali lipat penyalurnya pinjaman Kredit Pemilikan Rumah (KPR) terhadap rumah subsidi dari tahun 2017. Tercatat pihaknya akan mengalokasikan anggaran untuk 611.509 unit rumah subsidi.

Adapun rinciannya adalah penyaluran bantuan Pembiayaan Perumahan dengan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebesar 42.000 unit, Subsidi Selisih Bunga (SSB) sebanyak 225.000 unit selanjutnya Bantuan Uang Muka (BUM) sebesar 343.500 unity.

“Pada tahun 2018, (PUPR) telah mengalokasikan bantuan pembiayaan perumahan berupa FLPP 42.000 unit, SSB 225.000 unit dan BUM 344.500 unit,” jelasnya.

Selain itu, pihaknya juga menyiapkan skema pembiayaan baru seperti Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) dan Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) yang akan segera diluncurkan pada tahun depan. Dengan kedua skema pembiayaan tersebut diprediksi penyerapan rumah subsidi akan semakin membaik.

“Di tahun 2018, Bantuan Pembiayaan Perumahan Berbasis Tabungan (BP2BT) dan Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) siap beroperasi,” jelasnya.

Pernyataan Lana diperkuat oleh penyataan yang dilontarkan oleh Head of Marketing Rumah.com Ike Noorhayati Hamdan. Dia mengatakan, akan banyak masyarakat yang ingin membeli rumah di bawah harga Rp500 jutaan. Hal tersebut dikarenakan banyak masyarakat khususnya generasi milenial yang ingin memiliki rumah pertama.

“Jadi paling banyak (di bawah Rp500 jutaan), karena relatif yang mencari rumah adalah pertama kali. Kalau baru pertama kemampuan ekonomi yang baru menanjak,” jelasnya.

Menurutnya, harga rumah juga relatif tinggi. Sehingga, masyarakat menimbang pembelian rumah dengan kondisi ekonominya.

“Karena kalau lihat sudah termasuk mewah di atas 100 m2 karena hitungannya sudah mewah, apalagi pertama kalinya. Kalau upgrade bisa, kecil jadi seiring jumlah keluarga bertambah bisa besar. Kalau pertama kali biasanya rata-rata 72 m2,” jelasnya.

Categories: Peluang Pasar

Leave A Reply

Your email address will not be published.