Jateng Jadi Target Pemasaran Gas Alam

PROVINSIJateng menjadi target selanjutnya PT Pertagas Niaga untuk memasarkan gas alam, liquefied natural gas (LNG) dan compressed natural gas (CNG), setelah Jatim dan Jabar. Keminiman infrastruktur dan sumber LNG membuat anak usaha Pertamina itu fokus mendorong optimalisasi infrastruktur pipa yang saat ini masih dalam proses penyelesaian, mulai Gresik ke Semarang dan berujung di Tambaklorok.

Manager CNG PT Pertagas Niaga Dliyaa Ul Haq mengatakan selama ini LNG atau gas alam cair yang diproduksi justru diekspor dan dinikmati Korea, Tiongkok, dan Jepang. Tetapi penetrasi LNG sudah mulai berkembang di Jabar; pelaku usaha hotel, kafe, dan restoran berlomba-lomba mengaplikasikan sebagai upaya efisiensi energi. ”Kami sudah siapkan sumber gas dari Jatim, dan untuk sampai Tambaklorok perlu investasi pipa hingga sejumlah kawasan industri, misalnya di Kendal, Demak, Ungaran, Salatiga, Kudus, atau Pati. Tinggal sambungkan ke suplai saja, sehingga opsi LNG atau CNG sebagai pilihan persiapan ke sana saat fasilitas pipa sudah selesai semua,” papar Dliyaa dalam Forum Group Discussion (FGD) Kadin Jateng, kemarin.

Dengan pipa yang nanti interkoneksi, Gresik dan Semarang bisa tersambungkan, lalu dilanjutkan Semarang ke Cirebon. Namun demikian, banyak tantangan, khususnya terkait dengan pembebasan lahan, sehingga kerja sama dilakukan dengan KAI karena pembangunan pipa ada di sepanjang rel kereta api. Pengguna LNG, khususnya belasan hotel di Jabar, menurut Dliyaa, terus bertambah.

Efisiensi bisa 10-15 persen, tergantung pada penggunaan dan jenis industrinya. LNG adalah gas alam yang dicairkan dan disimpan sebagai cairan yang sangat dingin; suhunya bisa 160 derajat Celcius dan volume dimampatkan hingga 600 kali. Tidak hanya ekonomis, LNG memiliki kepadatan energi setara dengan BBM, sehingga mereduksi waktu pengisian bahan bakar dan bisa ditransportasikan ke mana saja.

Dalam proses pencairan gas alam, semua kontaminan sudah dihilangkan sehingga memiliki tingkat kemurnian tinggi. ”Sudah banyak permintaan dari hotel atau restoran, khususnya di Jabar; dan Jateng menjadi target selanjutnya, supaya pengusaha bisa mendapat harga bahan bakar kompetitif dan sangat aman. Rumah sakit juga sudah ada yang memakai, contohnya RSUD Samarinda dan RSUD Balikpapan,” jelas dia dalam diskusi yang dimoderatori Komite Tetap Investasi Kadin Jateng Adi Ekopriyono.

Ramah Lingkungan

Agung Wahono, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Komda Semarang menilai penggunaan gas alam sangat ramah lingkungan. Selama ini banyak pabrik memakai batu bara atau solar dalam proses produksinya, yang bisa berdampak pada persoalan lingkungan. ”Kami, Apac Inti (Corpora), juga memakai CNG (gas yang sudah terkompresi) beberapa tahun terakhir. Tentu kehadiran CNG atau LNG perlu disambut baik, karena selain lebih efisien, ramah lingkungan. Diharapkan, infrastruktur bisa cepat selesai,” kata dia yang juga mewakili Apindo Jateng.

Konsumsi energi dalam sebuah proses produksi baik skala besar maupun kecil menjadi hal yang tidak bisa dihindari. Fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) industri yang dihadapi para pelaku industri membuat harus jeli berupaya mencari energi alternatif yang tidak hanya efisien, tetapi juga aman dan ramah lingkungan.

Wakil Ketua Umum Kadin Jateng Bidang Energi Terbarukan dan Sumber Daya Alam Muklisiyata mengakui begitu banyak keluhan dari pengusaha, termasuk di kawasan industri mengenai fluktuasi harga kebutuhan energi baik solar maupun elpiji. Pemakaian gas alam cair atau LNG dan CNG bisa memberikan solusi untuk menghemat pengeluaran produksi, khususnya BBM. ”Kami berharap, Pertagas secepatnya mendorong lebih banyak lagi pelaku usaha memakai LNG dan CNG. Banyak hotel, restoran, bahkan rumah sakit di Jateng yang bisa memanfaatkan supaya lebih efisien dan emisi gas juga kecil,” papar Muklis.

Selama ini, banyak pusat perbelanjaan memakai solar atau elpiji; juga pabrik yang menggunakan batu bara atau minyak bakar atau marine fuel oil (MFO). Tidak hanya dari sisi efisiensi, tetapi juga dampak buruk lingkungan, misalnya pencemaran, yang harus dipikirkan dalam jangka panjang. Manajer Pemasaran PT Kawasan Industri Wijayakusuma (KIW) Kuniyanti Hadiatmaja menyebutkan hampir semua investor yang masuk kawasan industri menanyakan fasilitas gas untuk proses produksinya. ”Kami sudah ada kerja sama dengan PGN, dan memang kebutuhan gas di kawasan industri betul-betul harus disiapkan untuk menjamin kelancaran proses produksinya. Kami berharap bisa segera terealisasi,” tutur dia.

Dliyaa Ul Haq menjelaskan membangun pipa dari Tambaklorok menuju KIW dan daerah industri lain membutuhkan waktu. Kendati demikian, pengembangan itu sudah masuk dalam daftar prioritas, dan titiktitik potensial telah dipetakan. ”Kita ketahui, PGN akan dilebur dengan Pertagas. Nanti seperti apa, kita juga belum tahu; tetapi titik industri potensial menjadi prioritas untuk dilayani,” tandas dia.(Modesta Fiska-17)

Categories: Kabar Kadin

Leave A Reply

Your email address will not be published.