Kadin-MUI Inisiasi Moslem Trade Center

Kadin Jateng berkolaborasi dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng membuat terobosan dalam pengembangan ekonomi lewat Moslem Trade Center (MTC). Sinergi itu menciptakan peluang bisnis untuk meningkatkan perekonomian umat dari seluruh lapisan.

”Banyak peluang usaha yang bisa dibangun bersama, disinergikan bersama. Ini kali pertama ada di Jateng,” jelas Ketua Umum Kadin Jateng Kukrit Suryo Wicaksono saat peluncuran di Hotel Grasia, Semarang, kemarin. Menurut dia, sinergi tersebut menjadi sebuah permulaan kebangkitan ekonomi Jateng, khususnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), karena provinsi ini terkenal sebagai ”gudang” usaha kecil dan menengah (UKM). ”Kehadiran Muslem Trade Center Jateng merupakan kebangkitan ekonomi umat bersama. Kami berharap kita semua bersinergi untuk merespons progam ini dan bersama-sama bergabung membesarkan MTC Jateng,” tegas dia.

Ketua MUI Jateng KH Ahmad Daroji menyambut baik kehadiran MTC Jateng. Mengutip pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla, umat Islam di Indonesia 87 persen dari total jumlah penduduk. Namun, kemampuan ekonominya hanya 10 persen. ”Tentu, mindset untuk menyebarluaskan pengetahuan tentang dunia usaha sangat penting. Kami berharap, kolaborasi ini salah satu langkah baru guna memajukan ekonomi di Jateng,” tutur dia.

Setelah peluncuran MTC, digelar Bussines Sharing menghadirkan Wakil Ketua Kadin Indonesia Bidang UKM Muhammad Lufti, Direktur Operasional dan Unit Usaha Syariah Bank Jateng Hana Wijaya, serta pemilik Kebab Turki Hendi Setiyono dengan moderator Iskandar Chang. Muhammad Lutfi mengatakan model bisnis sharing economy sebenarnya sudah diawali oleh Bung Hatta yang menciptakan konsep koperasi. Sharing economy merupakan sikap partisipasi dalam kegiatan ekonomi yang menciptakan value, kemandirian, dan kesejahteraan.

Tonggak Penting

”MTC ini akan menjadi tonggak penting bagi dukungan pertumbuhan ekonomi di Jateng. Karena itu, perlu dicari potensi apa saja yang bisa dikembangkan,” ujar dia.

Ia melihat potensi umat sangat luar biasa. Diharapkan ke depan, MTC sampai ke tingkat masjid-masjid agar pertumbuhan bisa menyentuh arus paling bawah. ”Lihat apa yang dibutuhkan masyarakat sekitar, kembangkan menjadi sebuah ladang usaha dan hasilnya untuk pengembangan kesejahteraan umat,” ucap dia.

Lutfi juga menekankan agar MTC mengikuti apa yang disebut bisnis digital. Ekonomi dengan landasan teknologi itu telah menghilangkan banyak jenis pekerjaan konvensional. Namun, teknologi digital juga menciptakan ribuan lapangan pekerjaan baru yang sebelumnya tidak terduga. Misalnya bisnis jasa transportasi online, belanja online, industri animasi, games online, jasa pengiriman, serta berbagai produk jasa lain. ”Berbagai pekerjaan dan bisnis berbasis teknologi digital mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Indonesia merupakan pangsa pasar tinggi bagi pengguna internet dan ponsel pintar. Saya berharap MTC bisa memanfaatkan perkembangan teknologi,” papar dia.

Ia menyebut kisah sukses Go-Jek yang telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan pendapatan sebagai driver, dan pendapatan UMKM, khususnya yang bergerak di bidang kuliner. Hana Wijaya menyebutkan industri keuangan, khususnya berbasis syariah mau tidak mau harus siap menghadapi era digitalisasi. Sebab, penggunaan teknologi finansial atau fintech sangat diperlukan. ”Bank syariah bisa memanfaatkan infrastruktur bank induk untuk pengembangan layanan berbasis teknologi tersebut,” kata dia.

Menurut dia, melalui digitalisasi dan penggunaan fintech, nanti akses perbankan syariah dapat menjangkau wilayah lebih luas atau lebih inklusif. Ketika perbankan syariah sudah one stop shopping, dapat memanfaatkan pertumbuhan e-commerce. ”Penggunaan teknologi harus dapat memenuhi aspek inklusi keuangan, khususnya syariah yang memiliki potensi besar,” imbuh dia.

Pengusaha Kebab Turki yang memiliki 1.300 gerai di sembilan negara Hendi Setiyana mengakui peran digitalisasi ekonomi sangat kuat dalam mendukung penjualan. Bahkan, saat ini 30 persen dari penjualan secara keseluruhan berasal dari pembelian online atau Go-Food. ”Itu tentu angka yang besar. Kami berharap MTC ke depan juga memanfaatkan perkembangan bisnis digital,” tutur dia.(G2-17)

Categories: Kabar Kadin

Leave A Reply

Your email address will not be published.