Kementan optimalkan serap gabah petani Pati

Kementan optimalkan serap gabah petani Pati

Kementan optimalkan serap gabah petani Pati

Pati (Antaranews Jateng) – Kementerian Pertanian berupaya mengotimalkan penyerapan gabah petani di Keresidenan Pati, Jawa Tengah, agar mendapatkan harga yang layak dengan tetap menjaga harga beras di tingkat konsumen terkendali.

“Dalam rangka optimalisasi penyerapan gabah petani tersebut, kami menggelar rapat koordinasi Serap Gabah (Sergap) untuk wilayah Karesidenan Pati di Hotel Safin Pati, hari Selasa (13/2),” kata Penanggung Jawab Sergab Pati Prihasto Setyanto di Pati, Selasa.

Ia mengatakan, rakor tersebut merupakan tindak lanjut dari penugasan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terkait optimalisasi penyerapan gabah petani.

Ternyata, lanjut dia, eksekusi di lapangan tidak mudah, mengingat banyak hal-hal teknis yang harus ditindaklanjuti.

Rapat dihadiri sejumlah pejabat TNI AD, Badan Urusan Logistik Subdivisi Regional (Bulog Subdivre) II, BRI, dinas terkait di lingkungan Karesidenan Pati serta Dinas Ketahanan Pangan Jateng.

Pengalaman sergap sebelumnya, kata dia, tidak memenuhi target yang dicanangkan lima kali lipat dari penugasan awal sebanyak 200 ton di setiap wilayah di Jateng.

“Meskipun tidak tercapai 1.000 ton, kami bisa merealisasikan 633 ton,” ujar Prihasto Setyanto yang juga Direktur Sayuran dan Tanaman Obat (STO) Direktorat Jenderal Hortikultura.

Selain mencari solusi atas kendala-kendala sergap, rakor juga bertujuan menangkal impor, karena salah satu indikator impor ketika stok beras di gudang Bulog di bawah 1,1-1,2 juta ton beras, sedangkan saat ini di bawah 800.000 ton.

Harapan lainnya, pemerintah melalui Bulog bergerak lebih cepat dalam membeli gabah petani dibandingkan tengkulak.

Ia berharap, Bintara Pembina Desa (Babinsa) sebagai pelaksana teknis di lapangan, mengadopsi pola yang dipakai Ditjen Hortikultura dalam mengendalikan harga cabai dan bawang merah.

“Petani binaan Ditjen Hortikultura alias champion diberikan pemahaman, agar bersedia menjual produknya dengan murah ketika harga melambung tinggi,” ujarnya.

Pemerintah, lanjut dia, perlu menggerakkan supaya mereka bisa membantu pemeritah dalam rangka stabilisasi harga, ketika terjadi gejolak di pasar, sehingga mereka berkomitmen.

“Mereka bersedia menjual murah, karena memahami adanya bantuan pemerintah sebesar Rp30 juta per hektare untuk cabai dan bawang merah Rp40 juta per hektare untuk berusaha,” ujarnya.

Asisten Logistik Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro Kol Czi Agus Supriyono menerangkan, kendala yang ditemui, di antaranya minimnya mesin pengering (dryer), padahal sedang musim hujan.

“Jika gabah dijemur secara alami, tentunya akan rusak,” ujarnya.

Ia juga mengimbau, jajaran Kodim di bawah Kodam IV/Diponegoro tidak sungkan bertanya masalah terkait, mengingat TNI belum lama ditugaskan untuk menyerap gabah.

TNI juga menawarkan barak-barak TNI AD menjadi tempat penyimpanan hasil sergap, jika gudang Bulog tidak memadai.

Kepala Bulog Subdivre II Pati Muhammad Taufiq memastikan, Bulog akan menyerap seluruh gabah petani selama kualitasnya sesuai kriteria.

Sementara, perwakilan dari BRI juga menyampaikan kesiapannya membantu Tim Sergap dalam pemberian pinjaman untuk membeli gabah petani dan siap mengupayakan suku bunga lebih rendah.

Dinas Ketahanan Pangan Jateng juga sudah menyosialisasikan Brigade Panen, termasuk menindaklanjuti surat Dirjen Prasarana Sarana Pertanian (PSP) Kementan terkait sergap.

Penggunaan pemanen kombinasi (combine harvester) nantinya diprioritaskan pada lokasi panen yang hasilnya dibeli Kodim.

Pengelolaan combine harvester oleh poktan, gapoktan, atau Unit Penyedia Jasa Alsintan (UPJA), pemanfaatannya juga harus dikoordinasikan dengan Kodim.

Sementara keberadaan combine harvester Brigade Alsintan dapat dimanfaatkan Kodim dengan perjanjian pinjam-pakai tanpa biaya.

Pertemuan tersebut juga mengusulkan Tim Sergap menginventarisasi wilayah yang harga gabahnya tinggi.

Harga yang diterima petani dan dibeli juga harus dievaluasi, guna mengetahui harga riil di suatu wilayah mengingat tidak jarang petani menanggung ongkos distribusi dari sawah ke penggilingan atau Bulog.

Sumber Berita

Categories: News

Leave A Reply

Your email address will not be published.