Pembiayaan Pangan, Kadin Rekomendasikan Skema Closed-Loop

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia melalui Jakarta Food Security Summit mendorong adanya strategi dan terobosankebijakan penyediaan akses pemodalan bagi para petani, peternakmaupun nelayan. Wakil Ketua Umum KADIN bidang Agribisnis, Pangan dan Kehutanan, Franky O. Widjaja seusai diskusi di Jakarta Convention Center mengatakan, selain masih terbatas, akses pemodalan yang ada umumnya mengenakan suku bungayang terlalu tinggi bagi para petani. Padahal, kontribusi sektorpertanian di Indonesia mencapai 13.6% dari PDB, dan untuksektor pengolahan berbasis pertanian telah menyerap lebih dari35% tenaga kerja.

Karenanya, ia mengimbau segenap pemangku kepentinganmengambil contoh dari sejumlah skema pembiayaan yang selamatelah berjalan efektif. “Pola Inti-Plasma pada perkebunan kelapasawit yang menerapkan skema close loop misalnya, dimanaantara petani–koperasi–perbankan–avalis berintegrasi dalam polayang saling menguntungkan.”

Dalam penerapannya, para pekebun menggarap lahan bersertifikatatau legal, yang memungkinkan mereka mengagunkannya untukmenjaring kredit dengan bunga terjangkau. Dengan ketersediaanpendanaan, para pekebun mampu membeli dan menggunakanbibit unggul bersertifikat, sehingga produktivitas merekameningkat.

Di sana terdapat pula pendampingan bagi pekebun gunamenjalankan praktik agribisnis terbaik (Good Agricultural Practices). Menurut Franky, koperasi akan berperan sentralselaku lembaga berbadan hukum yang mewadahi seluruhinteraksi para pihak tadi. “Hal ini dapat coba diterapkan padasektor komoditas yang lain. Pihaknya juga berharap agar Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah berlangsung dengan melibatkanbank milik Pemerintah, dapat terserap dengan optimal dan tepatsasaran.

Dalam kesempatan ini, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukitamengatakan: “Yang menjadi persoalan saat ini adalah dari petani sampai pedagang dikuasai oleh tengkulak. Kita tidak bisa memerangi tengkulak karena pedagang sangat berterima kasih dengan mereka yang memberikan kredit. Bank BPR dan KUR tidak menyentuh mereka. Inilah yang membentuk harga tinggi, karena dari awal sudah diberikan pinjaman dan kesepakatan harga tidak seimbang.” Mendag menekankan pentingnya peran pengusaha sebagai offtaker dan menggantikan peran tengkulak. Menurutnya, pengusaha hadir tidak hanya untuk memberikan jaminan pembelian tetapi juga sebagai avalis.

Seperti halnya sektor tanaman pangan, industri perikananyang juga amat bergantung pada kondisi alam, selainmembutuhkan jaminan ketersediaan lahan (khususnya di sektor perikanan kolam atau tambak), membutuhkan pula jaminan asuransi guna mengantisipasi kegagalan.

Penyediaan lahan dengan pola clustering didukunginfrastruktur yang memadai dinilainya akan menarik minatinvestor. “Semakin banyak investor yang tertarik, otomatisdapat mendorong minat perbankan untuk meningkatkanpenyaluran kredit di sektor ini, yang berlanjut padameningkatnya skala ekonomi industri perikanan,” kata Wakil Ketua Umum KADIN Bidang Kelautan dan Perikanan, Yugi Prayanto.

Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI), Suprajarto mengatakan BRI saat ini adalah bank yang konsen terhadappetani, peternak dan nelayan dengan total jumlah debiturhampir 1,8 juta debitur. Suprajanto mengatakan ada tiga halyang perlu diperhatikan untuk pengembangan pertanian, peternakan dan perikanan: business model dalam halpenyaluran kredit; offtaker dari swasta maupun bumn untukmenjamin penjualan hasil produksi petani; dan skala ekonomi.

Categories: Kabar Kadin

Leave A Reply

Your email address will not be published.