Peran Strategis Industri Petrokimia Butuh Sokongan

Kebutuhan nasional akan pasokan bahan baku berbasis industri petrokimia terus meningkat dari tahun ke tahun. Di sisi lain, impor bahan baku berbasis migas, plastik dan olahan kimia lainnya juga mencatatkan angka yang sangat besar. Kondisi ini menjadi gambaran betapa strategisnya posisi sektor hulu migas dan petrokimia dalam pembangunan industri nasional sekaligus potret dilema yang sedang dihadapi industri nasional.

“Tidak adanya perkembangan signifikan pada investasi di sektor petrokimia dalam dua dekade terakhir berdampak pada minimnya suplai kebutuhan akan produk petrokimia dari pabrikan dalam negeri,” ulas Johnny Darmawan, Wakil Ketua Umum Bidang Perindustrian Kadin Indonesia dalam FOCUS GROUP DISCUSSION (FGD) MEMBANGUN INDUSTRI NASIONAL BERKELANJUTAN KAJIAN SEKTOR INDUSTRI HULU MIGAS DAN PETROKIMIA yang digelar Kadin Indonesia di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (25/1/2017).

Dia menjelaskan, saat ini kebutuhan bahan baku petrokimia dalam negeri mencapai 5,6 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut  pemenuhan permintaan baru mencapai sekira 2,45 juta ton per tahun.  Alhasil, hampir 50% bahan baku industri untuk memenuhi permintaan sektor petrokimia masih berstatus impor.

“Pasar produk petromikia, dari hulu, antara, hingga hilir sangat besar. Namun, pasar domestik dikuasai produk impor. Dengan struktur seperti itu, praktis industri petrokimia nasional sulit bersaing,” lanjut Johnny.

Menurut dia, kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah maupun pelaku usaha. Bila industri hulu migas dan petrokimia tidak segera dibenahi maka industri nasional tidak belum bisa mengarah ke status sustainable Industry. Pasalnya, industri strategis memiliki posisi strategis sebagai penyuplai bahan baku bagi sektor industri lainnya.

Oleh sebab itu, Kadin Indonesia menilai sektor hulu industri perlu mendapatkan perhatian serius dalam penataan struktur industri nasional. Selain memasok berbagai jenis bahan baku untuk industri lainnya, industri petrokimia hilir juga menjadi menyuplai berbagai kebutuhan harian masyarakat.

 “industri petrokimia sebenarnya dapat memberikan kontribusi yang besar kepada negara untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku, menambah devisa dari produk-produk yang dapat diekspor, serta membuka lapangan kerja yang luas. Lebih dari itu, industri petrokimia juga punya posisi strategis dalam pembangunan industri secara keseluruhan dalam rantai produksi lintas sektor industri,” papar Rauf Purnama, Ketua Komite Tetap Industri Kimia & Petrokimia Kadin Indonesia

Oleh sebab itu, dia menilai upaya membangun industri yang berkelanjutan sulit diwujudkan bila sektor petrokimia dan industri hulu migas lainnya tidak mendapatkan perhatian serius.

Dalam pandangan Kadin, terdapat sejumlah kendala yang perlu dibenahi untuk mencapai tujuan tersebut. Besarnya permintaan akan produk petrokimia dari sektor industri turunan di satu sisi belum dapat dipenuhi secara maksimal. Perbedaan harga bahan baku impor dan hasil industri petrokimia domestik juga menjadi persoalan tersendiri.

Tidak hanya bagi industri turunan, industri petrokimia pun mengalami kendala terkait pasokan bahan baku murah hingga suplai energi. Hal ini bisa berimbas pada harga jual produk yang dihasilkan yang juga sulit bersaing dengan harga bahan baku impor.

Kadin merekomendasikan beberapa poin rekomendasi yang perlu dipertimbangkan pemerintah dan para pemangku kepentingan lainnya untuk mendukung perkembangan industri petrokimia nasional.

–       Pertama, terkait ketersediaan bahan baku dan pasokan energi bagi industri berbasis migas & petrokimia. Ketersediaan bahan baku dan energi dengan harga yang kompetitif diyakini akan meningkatkan kembali kontribusi sektoral industri petrokimia.

–       Kedua, guna mendukung struktur industri yang saling menopang maka kebijakan yang berpihak pada peningkatan produksi hingga penjualan produk domestik perlu mendapat perhatian.Konsistensi kebijakan yang mendukung penguatan produk petrokimia nasional pun perlu mendapatkan perhatian.

–       Ketiga, adanya keberpihakan dari pemerintah dalam mendukung pengembangan TKDN dan pemanfaatan/memakai dalam negeri dalam memenuhi memenuhi kebutuhan bahan baku industri petrokimia turunannya.

–       Keempat,perhatian semua pihak terkait dukungan pada upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) berdasarkan kebutuhan Industri industri petrokimia.

Bila keempat hal tersebut bisa mendapatkan perhatian serius maka Kadin meyakini industri petrokimia akan bertumbuh kuat, berkontribusi lebih besar bagi pembangunan nasional, mampu memasok kebutuhan domestik hingga ekspor, dan bisa menyerap tenaga kerja yang lebih besar. Dengan demikian, apa yang menjadi sasaran dari pembangunan industri berkelanjutan bisa tercapai.

Kegiatan diskusi hari ini merupakan rangkaian FGD hingga saresehan akan berlangsung mulai 27 November 2017 hingga Februari 2018. Melalui kegiatan ini Kadin Indonesia berharap akan terbangun kerjasama antara semua pihak terkait dalam upaya membangun industri yang berkelanjutan, kokoh, berdaya saing tinggi, dan memiliki nilai tambah.

Dengan demikian, industri manufaktur nasional akan memiliki daya saing kuat secara domestik maupun global, menghadirkan produk dengan kualitas baik, melalui proses produksi yang efisien, memiliki alur suplai yang terkoneksi secara pasti dan memberdayakan SDM Dalam Negeri yang andal. Melalui tahapan-tahapan tersebut, Kadin berharap Industri nasional akan kembali mengambil peran utama sebagai pendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional.

Categories: Kabar Kadin

Leave A Reply

Your email address will not be published.