"Cek-klek" kompor gas menyala aman tanpa perlu ganti tabung (VIDEO)

"Cek-klek" kompor gas menyala aman tanpa perlu ganti tabung (VIDEO)

"Cek-klek" kompor gas menyala aman tanpa perlu ganti tabung (VIDEO)

Semarang (ANTARA) – Siang itu empat kompor di Rumah Makan Gemiyati, Jalan Citarum Raya, Kelurahan Mlatiharjo, Semarang Timur, Provinsi Jawa Tengah menyala seluruhnya, ada yang untuk menghangatkan orek tempe, ada yang memasak air untuk membuat kopi dan teh, juga memasak lainnya.

Empat kompor dengan masing-masing memiliki dua tungku dengan api yang menyala dari seluruh tungku menggunakan gas bumi  terlihat menyala biru.

Rumah Makan Gemiyati adalah salah satu penerima manfaat gas bumi sektor komersial untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sejak September 2019.

Baca juga: PGN raih tiga penghargaan dari BUMN Branding and Marketing Award 2019

Murah
Rosita (40), pemilik Rumah Makan Gemiyati mengaku sebenarnya dirinya sudah menunggu lama tempat usahanya terpasang gas bumi, karena pipa jaringan gas (Jargas) untuk rumah tangga telah terpasang di depan warungnya sejak tahun 2013.

Ita, panggilan akrab Rosita mengaku telah banyak mendengar cerita bahwa ada banyak kelebihan menggunakan gas bumi, yang  ingin ia rasakan dan ternyata terbukti.

"Yang pertama, pasti lebih murah. Jika saat menggunakan elpiji, saya sehari bisa habis 3 tabung dengan harga per tabung Rp20 ribu. Itu berarti sehari Rp60 ribu dikalikan sebulan atau 30 hari, tahu sendiri kan hasilnya berapa. Sementara kalau pakai gas bumi sebulan hanya bayar Rp800 ribu, bayarnya hanya sepertiganya," kata Ita.

Selisih pengeluaran tersebut, lanjut Ita, menjadikan semakin banyak biaya yang bisa disisihkan, sehingga untung berjualannya pun semakin banyak.

Keuntungan menggunakan gas bumi juga dirasakan Sugiarti (40) yang lebih lama menikmati gas bumi sejak pemasangan jaringan gas di Kelurahan Mlatibaru, Semarang Timur, pada 2016.

Ibu dua anak ini mengaku jika dulunya sebulan bisa sampai empat tabung dengan harga per tabungya Rp20 ribu, kini dengan gas bumi bisa hemat hingga separohnya, karena hanya bayar gas bumi Rp40 ribu per bulan.

Pembayaran gas bumi yang dilakukan di akhir bulan atau sehabis pemakaian pun, menjadi nilai lebih bagi keduanya terutama bagi Ita yang mengaku dengan pembayaran di akhir pemakaian, maka anggarannya bisa digunakan untuk modal usaha terlebih dahulu.

Tidak hanya pelaku UMKM, rumah tangga, tetapi dari pihak industri juga mengaku dengan menggunakan gas bumi lebih murah.

Director of Operations PT Kawasan Industri Wijayakusuma atau KIW (Persero) Ahmad Fauzie Nur mengaku tersedianya supply gas bumi di wilayahnya sebagai sumber energi bisa menjadi alternatif selain listrik dan batu bara.  

"Biaya operasional atau produksi dengan menggunakan gas bumi relatif lebih murah dibanding batu bara," kata Ahmad Fauzie.

Ia mengakui ketersediaan gas bumi tersebut menjadi nilai lebih untuk "menarik" para calon investor menjatuhkan pilihannya berinvestasi di KIW.

"Ketersediaan gas bumi saat ini menjadi salah satu pertimbangan investor dalam mempertimbangkan pilihan investasi di KIW," kata Ahmad Fauzie.

Aman
Bagi Rosita dan Sugiarti, menggunakan gas bumi tidak sekadar murah, tetapi juga aman karena bagi keduanya paling sedih saat harus mengganti tabung, kemudian keluar bau tidak sedap akibat gas bocor atau tabung tidak pas terpasang.

Kekhawatiran gas bocor saat mengganti gas dan tabung meledak, masih menghantui keduanya saat mengganti tabung elpiji.

Keduanya kini tidak lagi khawatir akan meledak, apalagi setelah mendapat penjelasan dari PGN bahwa berat jenis gas bumi lebih ringan dari udara, sehingga saat terjadi kebocoran, gas akan langsung menguap.

Sementara elpiji, berat jenisnya lebih berat dari udara, sehingga saat gas bocor, maka akan terakumulasi di bawah atau lantai dapur dan saat ada pemicu api langsung menyebabkan ledakan.

"Kalau saya, merasa lebih aman lagi, karena petugas PGN sering datang ke sini untuk ngecek untuk menanyakan ada keluhan tidak. Paling-paling hanya karena kompor kotor, jadi saya diminta bersihkan kompor agar nyala apinya bagus. Saya merasa ada pendampingan oleh petugas PGN," cerita Ita.

Nyaman
Selain aman, para penerima manfaat gas bumi mengaku juga nyaman. Apalagi jika elpijinya habisnya pada malam hari dan tidak ada cadangan tabung elpiji, bisa-bisa gak bisa masak.

"Lagi enak-enaknya masak, terus elpijinya habis. Harus lepas dan pasang tabung lagi. Apalagi buru-buru, kan tidak enak banget. Apalagi belum tentu elpijinya selalu ada," kata Ita.

Apalagi tabung elpiji yang digunakan Ita setidaknya harus empat agar dapat mencukupi seluruh kompor yang ada, sehingga begitu ada gas bumi, dirinya merasa terbantu tinggal "cek klek" kompor nyala, tidak perlu ganti tabung, tidak perlu angkat-angkat tabung.

 

Dengan menggunakan gas bumi, bagi keduanya juga menjadikan tempat memasak lebik longgar, karena tidak perlu menyisihkan ruang untuk penyimpanan tabung.

Hal sama juga disampaikan Sugiarti yang mengaku nyaman karena sekarang gas selalu ada 24 jam dan tidak khawatir kehabisan gas.

Kenyamanan lainnya bagi keduanya adalah pembayaran gas yang bisa di banyak tempat seperti di Bank Mandiri, BNI, BRI, BCA, BTN, Pos Indonesia, Alfamart, Indomaret, Alfamidi, Gopay, Link Aja, Tokopedia, dan PGN Mobile.

Sales Representative Jargas Rumah Tangga PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Semarang-Blora Astuti menjelaskan Rosita merupakan salah satu UMKM yang menerima manfaat gas bumi, selain empat UMKM lainnya yang berada di Kota Semarang dan satu di Kabupaten Blora.

Sementara Sugiarti satu dari 4.000 dan baru 1.800 rumah tangga yang terpasang jargas di Kelurahan Semarang Timur dari total 4 kelurahan di tahun 2013 pembangunan Jargas dan baru aktif 2016 di Kota Semarang.
 

Sales Representative Jargas Rumah Tangga PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Semarang-Blora Astuti melihat meteran pada Jargas di Kelurahan Mlatibaru bersama Sugiarti, warga setempat. (Foto: Nur Istibsaroh)

Sebanyak 4 kelurahan tersebut yakni Kelurahan Mlatibaru yang terbagi menjadi sektor 1,2, dan 3 (terdapat 3 UMKM); Kelurahan Bugangan yang terbagi menjadi sektor 4,9, dan 10; Kelurahan Karangtempel yang terbagi hanya satu sektor yakni 5; Kelurahan Rejosari terbagi 5 sektor yakni sektor 6 (terdapat 1 UMKM), sektor 7,8,9, dan 10 (baru sampai sektor 7).

Makin Dicari
Perusahaan Gas Negara (PGN) Sales area head Semarang Heri Frastiono menambahkan banyaknya manfaat dari gas bumi menjadikan banyak pihak yang "berlomba-lomba" mendapatkan gas bumi.

Kota Semarang, tambah Heri, menjadi daerah yang mendapatkan jatah tambahan 6.000 pemasangan Jargas untuk wilayah Kecamatan Semarang Barat (Kelurahan Krobokan, Karangayu, Cabean, Bojongsalaman, Salamanmloyo, dan Gisikdrono) untuk pemasangan 2020.

"Nantinya rumah dinas Wali Kota Semarang akan menjadi yang pertama kali dipasang, sehingga menjadi contoh bagi warga setempat. Selain Kota Semarang, Kabupaten Blora juga mendapatkan jatah 4.000 untuk Kecamatan Cepu dengan Kelurahan Balun, Cepu, Tambaromo, dan Karangboyo," kata Heri.

Selain Kota Semarang dan Kabupaten Blora, direncanakan daerah lain yang mendapat jatah penyambungan Jargas antara lain Kota Surabaya dengan 6.000 sambungan rumah (SR); Kabupaten Jombang 5.000 SR; Kota Pasuruan 5.000 SR; dan Kota Probolinggo 5.000 SR.

Baca juga: Gas PGN mengalir ke industri kapas sintetik di Jatim
Baca juga: PGN fokus tingkatkan pemanfaatan gas bumi domestik jangka panjang

Sumber Berita

Categories: News

Leave A Reply

Your email address will not be published.