Mengangkat Popularitas Kopi Muria

TIDAK hanya makam Sunan Muria Raden Umar Said di Gunung Muria, tepatnya di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus, tetapi juga ada kopi. Dari sisi barat, wilayah Jepara antara lain Desa Tempur (Kecamatan Keling) dan sejumlah desa lain serta Kecamatan Kembang, sampai timur di Pati. Ratusan hektare kebun kopi di Jolong (Pati) merupakan aset milik BUMN. Tak berbeda dari Kebun Jolong yang dikelola oleh perusahaan negara, di kawasan makam Sunan Muria terhampar sekitar 450 hektare kebun kopi rakyat. Semua tanaman kopi di empat desa Kecamatan Dawe, Kudus, yakni Colo, Japan, Kajar, dan Ternadi, jenis robusta.

Warga masyarakat menggarap kebun pada ketinggian rata-rata 800 m di atas permukaan laut yang diklaim milik Perum Perhutani itu, secara turun-temurun sejak masa penjajahan Belanda. Tetapi dalam hal popularitas, produksi kopi rakyat dari Muria (Colo, Japan, Kajar, dan Ternadi) kalah jauh daripada kopi Jolong yang telah merambah pasar ekspor. Kopi muria masih ’’tercerabut’’ dari alamnya, artinya selama ini sebagian besar hasil panen dijual dalam bentuk biji mentah kepada tengkulak dari luar daerah, kemudian menjelma sebagai kopi produksi daerah lain. Kopi muria juga kalah terkenal dari makam Sunan Muria yang mendatangkan manfaat ekonomi lewat wisata ziarah. Warga membuka usaha warung makan, suvenir, penginapan, dan jasa ojek.

Apakah lantaran telah mendapat penghasilan langsung dari wisata religi itu, sehingga warga menganggap remeh perkebunan kopi?

Objek wisata religi yang tak mungkin dipisahkan dari paket ziarah Wali Songo, semestinya pemasaran kopi dari kawasan lereng Gunung Muria tidak ada masalah.

Dijual Mentah

Produksinya cukup, dan mungkin selesai serta habis hanya dijajakan di warung atau kafe lokal; atau sebagai oleh-oleh serta dinikmati langsung. Faktanya, tiap musim panen sebagian besar kopi muria justru dijual secara biji mentah. Tengkulak paling besar datang dari Temanggung. Kalau pun ada yang mengolah menjadi kopi bubuk, itu pun dijual kiloan, tanpa kemasan dan merek.

Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Objek Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus yang membawahkan kawasan wisata Gunung Muria berupaya mendorong petani agar mengolah dan mem-branding kopinya. ’’Setidaknya, kini sudah ada sembilan merek kopi kemasan dari petani di Colo dan sekitarnya,’’ tutur Kepala UPTD Mutrikah.

Beberapa kali, pihaknya mengajak studi banding petani kopi, juga para pelaku wisata, ke beberapa destinasi di luar daerah. ’’Kalau khusus studi banding pengolahan dan pemasaran, petani kopi telah kami ke Jolong (Pati) serta Kebun Kopi Banaran (Kabupaten Semarang),’’ungkap dia.

Petani dan kopinya juga disertakan dalam pelbagai ajang pameran di luar daerah. Pihaknya tak ragu mengangkat potensi kopi Gunung Muria menjadi tema stan pameran. Belum pameranpameran di luar kota yang diikuti Dinas Perdagangan dan Pasar serta instansi lainnya; kopi muria selalu tampil dalam pajangan. Produk kopi muria siap saji pun mendapat sambutan pasar. Tak terkecuali pemasaran secara online, hampir semua merek terus meningkat penjualannya.

Rata-rata harga kopi produk Gunung Muria kemasan ukuran 150 gram eceran Rp 20 ribu. Terkain dengan peningkatan kualitas kawasan Gunung Muria sebagai destinasi wisata, ada energi segar jikalau kopinya makin dikenal di luar daerah. Pelancong ke dataran tinggi itu tak semata datang dengan alasan ziarah, tetapi juga daya tarik kuliner berupa kopi. 

 

https://www.suaramerdeka.com/smcetak/baca/90665/mengangkat-popularitas-kopi-muria

Categories: Kabar Kadin

Leave A Reply

Your email address will not be published.