Pendidikan Vokasi Cetak Pekerja Handal Siap Kerja

Pendidikan vokasi di Indonesia perlu didorong supaya mempercepat pertumbuhan industri, yang kini sangat membutuhkan kecakapan sumber daya manusia (SDM). Melalui pendidikan vokasi, akan tercipta tenaga kerja andal yang siap kerja sesuai kompetensinya. Demikian diungkapkan Kepala Pusdiklat Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Mujiyono saat menjadi narasumber dalam dialog Jago Bisnis bertema ”Mencetak SDM Andal Berbasis Industri dalam Menunjang Ekspor Jateng dan Nasional” yang disiarkan langsung di TVKU, Udinus, Semarang, Rabu (29/8) malam. ”Pendidikan vokasi harus dibangun habis-habisan, kalau mau industri bisa cepat berkembang. Pendidikan inilah yang harus didorong, karena semuanya berbasis kompetensi,” jelas Mujiyono.

Dia menyebut, salah satu pendidikan vokasi itu bisa ada pada Politeknik Industri Furnitur di Kendal. Kini, Politeknik yang mulai beroperasi pada Oktober mendatang itu memiliki tiga program studi, yakni Desain Produk Industri Furnitur, Teknologi Produk, serta Pengolahan Industri Furnitur dan Basis Industri Furnitur. Pada awal operasional, calon mahasiswa yang mendaftar sebanyak 697 orang, tetapi untuk sementara hanya menerima 99 mahasiswa baru.

Menurut Mujiyono, pendidikan vokasi itu menghasilkan tenaga kerja andal dan siap kerja. Kemenperin juga membangun Akademi Komunitas Industri Tekstil dan Produk Tekstil Solo (AK Tekstil Solo). ”Di AK Tekstil Solo ini, satu angkatannya ada 350 mahasiswa, keberadaannya membuat asosiasi industri tekstil mendukungnya. Industri tekstil padat karya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” jelasnya.

Pihaknya menegaskan, asosiasi industri tekstil mendukungnya karena mendapatkan tenaga kerja lulusan AK Tekstil Solo yang memang sudah kompeten. Industri tekstil itu banyak ada di Solo, Sragen, Klaten, bahkan Wonogiri. Mujiono mengungkapkan, ada ketidaksinkronan terkait kompetensi sumber daya manusia (SDM), bahwa tiap tahun industri membutuhkan 600 ribu tenaga kerja. Adapun angka pengangguran sudah tujuh juta lebih. Hal itu karena semua SDM memang harus berbasis kompetensi. ”Ketika ada tenaga kerja asing masuk, maka jangan salahkan mereka kalau orang-orang dalam negeri sendiri belum kompeten,” tandasnya.

Di Indonesia, lanjut dia, ada 4.500 perguruan tinggi, tetapi yang menerapkan pendidikan vokasi hanya enam persen saja. Adapun di Tiongkok, dengan jumlah penduduk 1,4 miliar jiwa, perguruan tinggi ada 2.500, tetapi penerapan pendidikan vokasinya 56%. Dia mengakui, investasi pendidikan vokasi itu besar, kalau swasta membangun Politeknik agak berat, karena bisa menelan biaya sekitar Rp 200 miliar.

Dalam membangun infrastruktur kompetensi SDM, menurut Mujiyono, memang perlu berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Tenaga Kerja, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jateng, serta pelaku industri. Narasumber lain, Wakil Ketua Umum Investasi Kadin Jateng, Bernadus Arwin mengatakan, industri membutuhkan standar pelaku industri. Kadin mendukung pendirian Politeknik di Kendal tersebut dengan mengumpulkan industri dari Jateng, Jawa Timur (Jatim), dan Jawa Barat (Jabar). Menurut dia, di Indonesia belum ada, sehingga akan menjadi acuan dalam menyusun kurikulum. Adapun tenaga ahlinya didatangkan dari Swiss.

Categories: Kabar Kadin

Leave A Reply

Your email address will not be published.