(024) 3561463/64 info@kadinjateng.com

Produk Ekowisata Diprediksi Naik Daun Pascapandemi


Produk ekowisata diprediksi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) bakal naik daun pascapandemi COVID-19. Kegiatan wisata berbasis alam diprediksi paling cepat rebound karena ecoturism bukanlah mass tourism, melainkan wisata minat khusus.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan Kemenparekraf/Baparekraf Rizki Handayani mengatakan, pandemi ini telah mengubah jenis pengelolaan destinasi, termasuk kegiatan ekowisata. Untuk itu, diperlukan evaluasi dan penataan ulang pola perjalanan ekowisata yang disesuaikan dengan kondisi new normal.

“Kita mendukung akan kembalinya atau malah berkembangnya ekowisata di Indonesia. Ke depan, kami akan konsentrasi di wisata Ecotourism dan Wellness Tourism,” kata Rizki Handayani dalam Webinar Ekowisata, Rabu (20/05/2020).

Di sisi lain, Direktur Indonesia Ecotourism Network (INDECON) Ary S. Suhandi menilai, Ecotourism, Adventure Tourism, dan Wellness Tourism akan menjadi produk-produk yang paling diminati pascapandemi. Terlebih, untuk kegiatan dengan grup kecil dan aktif seperti interaksi di luar ruangan, kegiatan edukasi alam untuk keluarga, hingga aktivitas yang berkontribusi pada konservasi alam.

Adventure juga berpeluang besar, terutama kegiatan dalam grup kecil dengan aktivitas yang dinamis, seperti trekking, snorkeling, dan diving. Wellness Tourism juga diprediksi cepat rebound. Banyak orang membutuhkan kebugaran pascakerja rutin yang tinggi dengan target market adalah orang dari kota,” ujar Ary.

Situasi pascapandemi tak dipungkiri akan menciptakan pola perjalanan wisata baru. Menurut Direktur Via Via Tour & Travel Sry Mujianti, kombinasi alam dan budaya biasanya menjadi pilihan utama wisatawan. Hal ini akan semakin lengkap apabila didukung dengan interpretasi yang kuat di setiap destinasi.

“Sebagai contoh, untuk klaster Jogja-Solo-Semarang (Joglosemar) biasanya menghubungkan kota-desa kemudian ada klaster Jawa Timur, mulai dari Malang hingga Banyuwangi. Wisatawan akan lebih memilih untuk melakukan perjalanan dengan jarak yang relatif dekat atau menempuh waktu lebih singkat,” ujar Sry.



Source link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *