Stok menipis, harga gabah di Boyolali stabil tinggi

Stok menipis, harga gabah di Boyolali stabil tinggi

Stok menipis, harga gabah di Boyolali stabil tinggi

Boyolali (Antaranews Jateng) – Harga gabah kering panen di tingkat petani Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, menjelang tutup tahun 2018 masih stabil tinggi di tengah stok barang yang mulai menipis.

Keterangan yang dihimpun dari sejumlah kalangan di Boyolali hingga Rabu menyebutkan bahwa harga stabil tinggi gabah tersebut karena stok di kalangan petani dan penggilingan mulai menipis kendati cadangan beras di kabupaten ini cukup melimpah. 

Partinah (40), petani Desa Sambi Boyolali, mengatakan harga gabah kering panen (GKP) sekarang ini cukup tinggi yakni antara Rp5.100 per kilogram hingga Rp5.200/kg untuk gabah kering panen (GKP). Sementara itu, sebagian petani baru akan kembali panen pada Maret hingga April 2019.

Memasuki musim hujan saat ini, baik lahan persawahan maupun tadah hujan, petani memang mulai mempersiapkan ladang untuk ditanami padi. Lahan persawahan irigasi tekni tidak perlu menunggu musim hujan dan petani bisa menanam hingga tiga kali setahun. Bulan ini, memang musim tanam, tetapi sebagian petani masih ada yang panen. 

Terpisah, Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi (Perpadi) Jawa Tengah Tulus Budiono saat dikonfirmasi soal harga gabah di tingkat petani sekarang mencapai Rp5.100 per kg hingga Rp5.200 per kg, membenarkan. Harga itu dinilai masih tinggi dibanding sebelumnya, sekitar Rp4.800 per hingga hingga Rp5.000 per kg.

Menurut Tulus Budiono, harga gabah tersebut bertahan stabil 2 bulan terakhir ini, sedangkan persediaan di tingkat petani maupun tempat penggilingan padi juga cenderung menipis.

Namun, kata Tulus, untuk stok pangan khususnya beras di Jateng dan khususnya Boyolali cukup melimpah sehingga persediaan di wilayah ini untuk beras aman.

Tulus mengajak seluruh desa menjaga ketahanan pangan dengan memeprsiapakan lumbung pangan. Hal ini sebagai upaya antisipasi kondisi buruk yang terjadi bersamaan, misalnya, bencana alam dan anomali cuaca yang dapat menganggu sektor pangan.  

Menurut Tulus, lumbung pangan masyarakat desa tersebut merupakan keniscayaan. Hal ini sebagai strategi pemberdayaan masyarakat perdesaan sekaligus antisipasi bila terjadi bencana alam, banjir, dan anomali cuaca yang menganggu ketahanan pangan.

Lumbung desa
Tulus menyebutkan di Jateng ada sekitar 8.498 desa yang tersebat di 35 kabupaten kota. Jika setiap daerah/desa memiliki lumbung desa yang dapat menyimpan gabah minimal 5 ton ketika musim panen maka stok cadangan pangan bisa mnecapai 48 ribu ton.

"Cadangan gabah di setiap desa dapat sebagai jaminan ketersediaan pangan untuk mengantisipasi kondisi darurat sehingga stok pangan aman," kata Tulus.

Menyinggung soal harga beras di tingkat penggilingan padi, Tulus menjelaskan, juga masih stabil yakni untuk kualitas medium Rp8.500 per kg, sedangkan kualitas premium berkisar Rp9.500 per kg hingga Rp10.000 per kg. 

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Boyolali Bambang Jiyanto sebelumnya mengatakan produksi gabah di Kabupaten Boyolali hingga hingga bulan ini mencapai 244.064 ton gabah kering giling (GKG) atau stok pangan aman.

Menurut Bambang, luas tanam tanaman pangan di Kabupaten Boyolali tahun ini diketahui indikatifnya mencapai 52.446 hektare, tetapi realisasinya 54.425 hektare.

Kemampuan produksi diprediksi sebesar 295.635 ton, sedangkan realisasinya hingga Agustus 2018 sebanyak 244.064 ton GKG. 

 

Sumber Berita

Categories: News

Leave A Reply

Your email address will not be published.