Semarang — Dalam momentum yang penuh optimisme, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur sukses menggelar Misi Dagang dan Investasi perdana tahun 2026, sebuah langkah kolaboratif strategis yang membuka pintu lebar bagi penguatan ekonomi kedua provinsi. Acara yang berlangsung di PO Hotel Semarang ini bukan hanya ajang temu bisnis biasa, melainkan wujud nyata sinergi antar daerah yang dipimpin langsung oleh para kepala daerah, termasuk Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen dan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Ketua Umum Kadin Jawa Tengah, Harry Nuryanto Soediro, momen ini adalah tonggak penting dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi regional yang selama ini bergerak secara parsial. “Kolaborasi ini bukan sekadar pertemuan dagang, tapi sebuah komitmen bersama untuk membuka pasar yang lebih luas dan memperkuat jejaring usaha lintas provinsi,” ujarnya. Harry menegaskan bahwa Kadin Jawa Tengah mendukung penuh inisiatif ini karena membuka peluang bagi pelaku usaha, khususnya Industri Kecil dan Menengah (IKM) serta Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), untuk menjangkau pasar baru dan mendapatkan akses investasi yang lebih besar.
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin menekankan bahwa misi dagang ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi unggulan kedua daerah, sekaligus sebagai wahana belajar mengadopsi model sukses pengembangan produk unggulan dari provinsi lain. “Kami ingin produk-produk unggulan Jawa Timur bisa dikenal dan dimanfaatkan di Jawa Tengah, begitu juga sebaliknya,” kata Taj Yasin. Ia menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkomitmen menciptakan iklim usaha yang kondusif agar setiap peluang kerja sama dapat berkelanjutan dan berdampak nyata pada perekonomian daerah.
Misi dagang yang melibatkan 218 pelaku usaha dari kedua provinsi ini mencatat angka transaksi yang mencengangkan. Wakil Gubernur menyebutkan bahwa sektor kopi, gula, dan komoditas lain mencatat transaksi tahunan yang nilainya mencapai lebih dari Rp100 miliar. “Ini bukti nyata potensi besar yang harus terus difasilitasi oleh pemerintah,” ujarnya. Dari data yang terhimpun, transaksi di sektor peternakan dan perikanan juga menunjukkan angka fantastis, dengan nilai mencapai Rp1,1 triliun dan Rp378 miliar secara berurutan. Angka ini menandai kuatnya permintaan dan integrasi pasar antara Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Dari sisi Jawa Timur, Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyatakan bahwa misi dagang ini merupakan langkah awal yang sangat positif untuk memperkuat sinergi ekonomi kedua provinsi. “Hingga pukul 13.00 WIB, nilai transaksi telah mencapai Rp2,9 triliun,” ungkap Khofifah. Ia merinci bahwa penjualan produk Jawa Timur mencapai Rp2,658 triliun, sementara pembelian produk Jawa Tengah sebesar Rp184 miliar. Investasi dari Jawa Timur ke Jawa Tengah juga tercatat sebesar Rp96 miliar, salah satunya untuk mendukung program nasional terkait pengembangan lahan pertanian berkelanjutan, mengingat keterbatasan lahan sawah di Jawa Timur.
Transaksi yang terjadi mencakup beragam komoditas strategis. Kayu, telur, ikan, cengkeh, dan tembakau menjadi produk andalan dari Jawa Tengah yang diminati oleh Jawa Timur. Di sisi lain, Jawa Timur mengekspor beras, kopi, daging ayam, dan fillet dori ke Jawa Tengah. “Sektor peternakan dan perikanan menjadi ujung tombak transaksi yang sangat signifikan,” tambah Khofifah. Ia menyebutkan bahwa misi dagang ini menjadi titik awal yang sangat baik untuk kerja sama jangka panjang yang saling menguntungkan.
Beberapa contoh transaksi yang menonjol selama misi dagang ini adalah kerja sama penyediaan jagung lokal kuning sebanyak 1.800 ton antara PT Sidoagung Farm Magelang dan CV Ukirsari Jaya Agro Tuban, pembelian beras oleh Indomaret dan Indogrosir Jawa Tengah senilai Rp126,5 miliar, serta transaksi produk perikanan UD Dwi Manunggal Semarang senilai Rp142,8 miliar. Industri hasil tembakau PT PSPM Semarang juga mencatat transaksi sebesar Rp192 miliar, dan kerja sama di sektor gula senilai Rp105 miliar antara PT Indoacidatama Karanganyar dan PT Sinergi Gula Nusantara turut menjadi highlight transaksi.
Keberhasilan transaksi ini merupakan bukti bahwa kolaborasi lintas provinsi bukan sekadar impian, tapi langkah konkret yang harus terus diperkuat. “Kadin Jawa Tengah melihat bahwa peran pelaku usaha dan asosiasi sangat penting dalam menjaga kesinambungan kerja sama ini. Pemerintah harus terus hadir sebagai fasilitator agar iklim usaha tetap kondusif dan peluang kerja sama semakin terbuka,” tutur Harry.
Selain transaksi perdagangan, misi dagang ini juga diwarnai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kesepakatan ini menandai komitmen kedua pihak untuk memperkuat kerja sama lintas sektor. Penandatanganan juga melibatkan delapan pelaku usaha dan organisasi, termasuk antar-OPD dan asosiasi pengusaha kedua provinsi. Ini menjadi fondasi yang kokoh agar sinergi yang telah terbangun tidak hanya berhenti di acara ini, melainkan menjadi gerakan berkelanjutan.
Harry Nuryanto Soediro optimis bahwa kolaborasi ini akan membuka banyak peluang baru, tidak hanya bagi pelaku usaha besar tetapi juga pelaku usaha kecil yang selama ini kesulitan mengakses pasar yang lebih luas. “Kami berharap jajaran OPD, perbankan, dan lembaga keuangan seperti Bank Indonesia dan OJK dapat terus mendukung pelaku usaha agar mereka bisa mengoptimalkan potensi yang ada,” jelasnya.
Melihat gambaran besar dari misi dagang ini, jelas bahwa sinergi antara Jawa Tengah dan Jawa Timur menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi antar daerah dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi nasional. Nilai transaksi yang telah menembus Rp3,15 triliun ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari potensi besar yang selama ini tertahan dan kini mulai mengalir deras untuk kesejahteraan bersama.
Harry menutup dengan pesan optimisme dan ajakan untuk terus memperkuat kolaborasi ini. “Perekonomian tidak bisa tumbuh jika berjalan sendiri-sendiri. Dengan semangat kebersamaan dan sinergi yang kuat, Jawa Tengah dan Jawa Timur bisa menjadi motor penggerak ekonomi yang lebih besar, tidak hanya untuk wilayah mereka, tapi juga untuk Indonesia secara keseluruhan.” Sebuah harapan yang kini mulai terwujud nyata di hadapan kita.


