
Semarang – Kedutaan Besar Australia kembali menggelar Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2026, sebuah ajang tahunan yang menampilkan kreativitas dan kolaborasi industri film kedua negara. Tahun ini, FSAI membawa karya-karya kontemporer terbaik untuk menyapa penonton di 11 kota di Indonesia, termasuk Semarang dan Surabaya.
Pembukaan festival di Semarang yang berlangsung di DP XXI Mall Semarang dihadiri langsung oleh Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew. Acara diawali dengan penayangan Kangaroo, sebuah film drama komedi dengan latar pedalaman Australia yang memukau secara sinematik dan membawa pesan kehangatan keluarga.
Dalam sambutannya, Glen Askew menekankan pentingnya film sebagai jembatan diplomasi. “Film merupakan medium komunikasi budaya suatu negara. FSAI adalah bentuk komunikasi Australia dan Indonesia kepada penonton untuk memperkuat pemahaman budaya masing-masing negara. Festival ini juga merupakan perayaan kemitraan industri kreatif antara Australia dan Indonesia,” ujarnya.
Selain Kangaroo, FSAI 2026 menyajikan beragam genre yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Di Semarang, penonton dapat menikmati film animasi 200% Wolf, dokumenter Beyond the Reef, hingga film horor Dangerous Animals. Keberagaman kurasi ini diharapkan mampu memfasilitasi berbagai sudut pandang kreatif, baik bagi penikmat maupun kreator film lokal.
Sejalan dengan semangat festival tersebut, Ketua Umum Kadin Jawa Tengah turut memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan industri perfilman di Semarang. Ia berharap FSAI tidak hanya menjadi ajang tontonan, tetapi juga menjadi pemantik bagi talenta lokal untuk naik kelas.
“Kami mendorong industri perfilman di Semarang agar terus berkembang. Harapannya, ke depan FSAI menjadi wadah bagi industri kreatif, terutama film dari Jawa Tengah, untuk bisa mendunia melalui kolaborasi internasional seperti ini,” ungkapnya.
Sebagai bentuk komitmen terhadap edukasi, FSAI juga menghadirkan Masterclass Participatory Production and Cross-Cultural Storytelling di Universitas Diponegoro pada Sabtu (09/05). Sesi ini dipandu oleh Michelle Johnston, pengajar senior dari Curtin University, guna memperkuat keterampilan produksi film dokumenter partisipatif bagi sineas muda di Semarang.
Festival ini merupakan bukti nyata dukungan Australia dalam memperkuat hubungan bilateral melalui sektor kreatif. Masyarakat dapat menikmati pemutaran film dan rangkaian acara ini secara gratis dengan tempat duduk terbatas melalui registrasi di situs resmi fsai.id.


